Sampai kapankah kita puas?

October 23, 2010 at 2:32 am 2 comments

Saat kita belum memiliki kendaraan, kita melihat orang menggunakan sepeda, kita berandai-andai alangkah enaknya bila memiliki sepeda. Saat kita sudah memiliki sepeda, kita sangat bersyukur. Tetapi disaat kita sedang terburu-buru pulang ke rumah setelah selesai beraktivitas menggunakan sepeda, tidak disangka ada sepeda motor yang dengan kencangnya melewati kita. Langsung terbersit dipikiran kita, alangkah nikmatnya punya sepeda motor, sehingga kita bisa menghemat waktu dan tenaga.

Maka bekerjalah kita dengan lebih keras, sehingga penghasilan yang didapatpun meningkat. Sebagian dari penghasilan tersebut kita simpan untuk mewujudkan cita-cita membeli sepeda motor. Beberapa bulan atau beberapa tahun berselang, cukuplah simpanan kita untuk membeli motor. Tak lama kemudian, terparkirlah sebuah sepeda motor didepan rumah kita. Alhamduilillah, cita-citaku sudah tercapai. Terbayanglah segala kemudahan & efisiensi yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan sepeda motor.

Tak lama berselang, ketika hendak berangkat beraktivitas untuk bertemu dengan klien potensial. Dimana semua hal sudah dipersiapkan dengan sematang-matangnya, tak disangka ditengah perjalanan hujan mendera. Sialnya, jas hujan lupa terbawa, karena baru saja kemarin dicuci. Saat berteduh, lewatlah sebuah mobil dengan cukup kencang. Tak sengaja, tercipratlah genangan air didepan kita, hingga mengotori pakaian kita. Huhhhh, ingin sekali mengumpat sopir mobil tersebut! Didalam kegamangan tersebut, terbersitlah keinginan untuk segera meng-upgrade sepeda motor yang sekarang dimiliki dengan sebuah mobil. Alangkah nyamannya bila kita bepergian menggunakan mobil. Bila cuaca panas maka kita tidak akan kepanasan dan bila cuaca hujan maka kita tidak akan kehujanan.

Kemudian setelah memiliki mobil, saat terjebak dalam kemacetan panjang dijalan, lewatlah sebuah helikopter. Terbersitlah keinginan untuk memiliki helikopter, dan seterusnya……

Tidak akan berhenti keinginan kita ini, bila kita memperturutkan hawa nafsu kita. Cobalah untuk membatasi diri & hawa nafsu kita dengan sifat qana’ah (merasa berkecukupan). Karena harta yang kita miliki didunia ini tidak akan kita bawa, apabila kita meninggal nanti. Imbangilah aktivitas duniawi kita dengan aktivitas religi yang akan membawa kita pada ketenangan lahir dan bathin. Bahagialah di dunia & selamatlah di akhirat! Amin…….

Entry filed under: Cerita Pembangun Moral. Tags: .

Ganti Kecamatan, ganti KTP dan KK Doa dan kemudahan

2 Comments Add your own

  • 1. gyannara  |  October 29, 2010 at 4:13 am

    Saya sudah punya motor, kok malah pengen punya sepeda, kalo itu tanda kurang puas atau apa ya?

    Reply
    • 2. depokmania  |  November 2, 2010 at 7:08 am

      Bisa jadi seperti itu, tetapi merupakan kodrat manusia untuk mendapatkan lebih. Jadi kita harus pandai-pandai mengendalikan diri saja🙂.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: