Apakah menyelamatkan mayoritas selalu pilihan yang terbaik?

September 20, 2010 at 9:26 am Leave a comment

Teringat sebuah cerita yang cukup menggugah hati saya, yang saya baca beberapa tahun lalu, sbb:

Bila anda seorang masinis kereta api, dan didepan anda ada persimpangan rel. Dijalur yang seharusnya anda lewati (menuju stasiun), ada 10 orang anak yang sedang bermain direl kereta. Sedangkan dijalur lain, terdapat seorang anak lain yang sedang bermain juga. Karena jarak anda dengan persimpangan rel & anak-anak tersebut sangat dekat, anda tidak mungkin mengerem kereta anda untuk berhenti. Anda hanya punya waktu untuk memilih jalan mana yang akan anda pilih untuk kereta anda, apakah ke stasiun atau kearah jalur lain.

Apa yang akan anda lakukan?

Apakah anda akan memilih mengalihkan kereta anda kejalur lain (bukan kearah stasiun), karena jumlah anak-anak yang kemungkinan akan tertabrak kereta lebih sedikit dibandingkan bila anda mengarahkan kereta anda ke stasiun (1 dibanding 10)?

Bila iya, mungkin anda sebaiknya memikirkan kembali apakah keputusan anda tepat atau tidak. Karena bila anda memilih jalur lain yang tidak mengarah ke stasiun, dengan pertimbangan jumlah anak yang akan tertabrak lebih sedikit, maka kemungkinan anda akan menyebabkan lebih banyak orang yang akan menjadi korban. Karena kereta yang akan anda bawa akan menabrak pemukiman rumah warga lain, yang jumlahnya lebih dari 10 orang.

Inilah yang terjadi dinegeri kita, para pemimpin negeri ini lebih melihat kepentingan jangka pendek dalam mengambil kebijakan. Misalnya dengan memilih hutang untuk menutup defisit anggaran, menyetujui reklamasi pantai demi peningkatan ekonomi serta pembukaan hutan tropis untuk perkebunan.

Memang secara jangka pendek kebijakan tersebut memberikan dampak positif, tetapi bila dilihat dalam jangka panjang, dampak negatifnya jauh lebih besar. Misalnya dengan kebiasaan berhutang, maka kita tidak akan pernah menjadi negara yang mandiri. Kita akan selalu tergantung negara lain untuk memberi utangan demi berjalannya roda perekonomian bangsa. Reklamasi pantai mungkin dapat meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dan orang-orang disekitar lokasi pantai tersebut, tetapi dengan alih fungsi lahan yang tadinya berfungsi sebagai resapan air & hutan bakau, menjadi hotel dan resort atau rumah mewah, maka niscaya bahaya banjir & rob akan datang segera. Pembukaan hutan tropis untuk perkebunan juga bukanlah tindakan bijak, bila dilihat dalam jangka panjang, karena kemampuan tanaman perkebunan (sawit, karet, kopi, dll) tidaklah sehebat tanaman hutan hujan tropis dalam menyerap emisi karbon dioksida (CO2) hasil pembakaran.

Jadi, kapankah kita & para pemimpin kita mengganti paradigma, agar anak & cucu kita masih bisa hidup dengan damai & nyaman dibumi kita ini?

Entry filed under: Cerita Pembangun Moral. Tags: .

Gas Elpiji, petaka atau kemudahan? Tips untuk menghindari kecelakaan karena kebocoran tabung elpiji Pemimpin Teladan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,480 hits

Categories


%d bloggers like this: