Negeri yang kurang ramah terhadap pejalan kaki & pejalan kaki yang kurang menyadari akan keselematan diri

July 28, 2010 at 11:35 am 2 comments

Suatu pagi disekitar jalan Kartini, Depok, situasi lalu lintas sangat ramai oleh mobil pribadi, angkot terlebih lagi oleh motor. Kebetulan saya pagi itu saya ada urusan disalah satu kantor kas bank nasional ternama dan hendak pergi menuju stasiun depok lama untuk mengecek jadual keberangkatan KRL ke Gambir sore hari. Baru saja saya meninggalkan ruko dan hendak berjalan dipinggir jalan, saya dikejutkan oleh banyaknya sepeda motor yang melintas pagi itu, yang memang bertepatan dengan saat orang-orang pergi bekerja.

Awalnya agak sulit memang untuk melangkah ketepi jalan, karena memang tidak adanya trotoar khusus pejalan kaki disepanjang jalan Kartini tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk melangkah pelan-pelan dipinggir jalan (tanah), tetapi tiba-tiba dari arah belakang ada motor yang mengerem mendadak, yang hampir saja menyerempet saya. Seketika tampak muka yang sebal dari pengendara motor tersebut. Saya tidak sengaja berkata kepada orang itu sbb “pak, hati-hati dong”. Eh, si pengendara motor malah marah sambil memacu kembali motornya. Wah, saya cuma bisa mengelus dada. Ternyata orang tersebut tidak mengerti tatakrama dalam berlalu lintas. Karena setiap pengguna jalan raya harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki, apalagi apabila sang pejalan kaki berada dipinggir jalan.

Yah, akhirnya saya lebih berhati-hati lagi dalam melanjutkan perjalanan ke tempat saya menservice motor.

Dilain hari, ketika waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, saya bergegas pulang dari kantor ke stasiun untuk mengejar kereta ekonomi AC ke Bogor (meskipun saya turun di Depok), yang jadual keberangkatannya adalah pukul 20.50 WIB. Nah, ketika saya melewati trotoar Jl. Jend. Sudirman, saya melihat ada seorang remaja yang menyebrang jalan Sudirman tanpa melalui jembatan penyeberangan. Wah, sangat berbahaya menurut saya, karena kendaraan yang lewat di Jl. Sudirman biasanya berkecepatan tinggi, kecuali saat macet. Saya bingung, apakah orang tersebut tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya?

Ternyata setelah berbicara dengan beberapa rekan kantor, sebagian dari mereka juga kerap menyeberang Jl. Sudirman, tanpa melalui jembatan penyeberangan. Wuih, cape deh …. Berani sekališŸ˜€.

Menurut saya, ada beberapa resiko yang dapat terjadi bila menyeberang tanpa melalui jembatan penyeberangan, yaitu sbb:

1. Tertabrak mobil yang melintas (sudah beberapa kejadian yang menelan korban luka maupun meninggal dunia)
2. Tertangkap oleh petugas (polisi) dan biasanya diberi hukuman (push up)

Alasan yang diungkapkan oleh oknum yang menyeberang Jl. Sudirman tanpa melalui jembatan penyeberangan adalah hal klasik, yaitu capek/lelah bila menggunakan jembatan penyeberangan. Jadi, mau pilih yang mana, sedikit keringan tapi aman (lewat jembatan penyeberangan) atau cepat tapi dengan taruhan nyawa (tanpa lewat jembatan penyeberangan).

Bagaimana menurut anda?

Entry filed under: Cerita Pembangun Moral. Tags: .

Apakah kita lebih hebat dari mereka? Memilih Kamera Digital atau Handycam

2 Comments Add your own

  • 1. gyannara  |  August 2, 2010 at 8:12 am

    seru juga kalo pengendara yg tidak menghargai pejalan kaki dan pejalan kaki yang kurang menyadari keselamatan diri bertemu. bisa banyak berkurang deh penduduk ini.

    Reply
    • 2. depokmania  |  August 2, 2010 at 12:53 pm

      Jangan mendoakan sesuatu yang kurang baik beh. Doakan saja mereka cepat tersadaršŸ˜€

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: