Apakah kita lebih hebat dari mereka?

July 27, 2010 at 1:03 pm 2 comments

Sore hari yang dihiasi oleh hujan rintik-rintik, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore, dan mobil yang saya tumpangi terjebak kemacetan sedikit didekat bundaran HI. Saat itu saya baru saja pulang dari meeting disalah satu kantor customer yang berlokasi di seputaran Gambir. Rencananya, saya & driver kantor akan kekantor sore itu. Lokasi kantor kami adalah dibilangan sudirman, Jakarta Selatan. Jalan tercepat kekantor kami adalah melintasi Jl. Sudirman itu sendiri dan artinya kami harus melewati zona 3 in 1.

Sebagai persiapan, sebelumnya kami mengambil satu joki didaerah menteng. Kebetulan joki tersebut seorang anak kecil, yang berumur sekitar 10 tahunan. Begitu naik, saya & driver kantor langsung mengajak ngobrol anak tersebut. Biasalah, ngobol ngalor ngidul, terutama tentang tempat tinggal atau keluarga.

Ternyata anak tersebut menjalani profesi sebagai joki 3 in 1, bersama dengan ibunya. Dia sering mangkal didaerah menteng. Anak tersebut tinggal di daerah citayam (perbatasan antara kota depok & kabupaten bogor). Sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Setiap siang hari, ia dan ibunya pergi ke menteng, menggunakan KRL ekonomi. Sedangkan pagi harinya ia bersekolah (SD). Sama dengan banyak saudara-saudara kita lainnya yang kurang mampu, mereka mengandalkan hidup dari melakukan apa saja. Misalnya menjadi joki 3 in 1. Usaha mereka tidak selalu berhasil, karena belum tentu tiap hari mereka mendapatkan rezeki dari pengendara yang menggunakan jasa mereka untuk melintasi jalur 3 in 1. Belum lagi bila mereka dikejar-kejar oleh polisi pamong praja, yang bila tertangkap akan dimasukkan ke panti rehabilitasi anak didaerah pondok bambu (menurut penuturan sang joki cilik). Lagi menurut sang joki cilik, suasana dipanti tersebut tidaklah menyenangkan, karena fasilitas yang tidak memadai. Maka tidak heran banyak penghuni yang kabur/melarikan diri dari sana.

Wah, hidup yang sangat berat (gumam saya dalam hati).

Setelah ia turun dari mobil kantor kami (setibanya saya dikantor), saya berfikir, mampukah saya hidup seperti itu. Jawabannya jelas, tidak. Jadi, apakah saya lebih hebat dari anak tersebut, jawabannya tidak, karena saya tidak akan sanggup untuk menjalani hidup yang keras seperti yang mereka alami.

Setidaknya saya sekarang bisa lebih menghargai & mensyukuri apa yang saya dapat selama ini. Mudah-mudahan inilah hikmah dari perbincangan saya dengan sang joki cilik.

Entry filed under: Cerita Pembangun Moral. Tags: .

Menanam tanaman buah secara “Tambulampot” Negeri yang kurang ramah terhadap pejalan kaki & pejalan kaki yang kurang menyadari akan keselematan diri

2 Comments Add your own

  • 1. Tri Drian  |  August 9, 2010 at 3:14 am

    Mau lebih bersyukur dengan bergabung bersama komunitas kereta ekonomi di pagi hari ?

    Reply
    • 2. depokmania  |  August 9, 2010 at 4:25 am

      Kl pak Tri ikutan komunitas kereta ekonomi yang sore/malam hari nggak? Jangan mendua lho …😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: