Kisah di Metro Mini (kurang bayar)

June 16, 2010 at 3:21 am 2 comments

Suatu pagi, dipertengahan bulan Juni 2010, selepas turun dari KRL Depok Express, saya bergegas mencari metro mini langganan saya untuk pergi kekantor. Mmmhh, ternyata masih ada beberapa polantas yang mengatur lalulintas disekitar stasiun dukuh atas. Alhasil, metro mini & kopaja yang biasanya berebutan penumpang & menimbulkan kemacetan dijalan, sekarang lebih tertib.

Akhirnya saya naik salah satu metro mini & mendapatkan tempat duduk ditengah. Tiba-tiba dari arah belakang saya mendengar ada suara wanita mengeluh dengan suara agak tinggi. Lama-lama saya perhatikan, tampaknya dia mengeluh karena ada yang membayar kurang dari jumlah yang seharusnya. Kemudian saya coba menengok kebelakang, ternyata memang kondektur kopaja tersebut adalah wanita. Dia terus saja mengoceh, dari patung Jend. Sudirman sampai jembatan karet, dengan kata-kata kasar. Terus terang saya tidak suka dengan kata-kata kasar seperti itu, apalagi dilontarkan didepan umum. Wah, mungkin sang kondektur sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, jadi ia bertingkah seperti itu tanpa ada beban.

Analisa saya adalah ada penumpang yang kurang bayar, dari yang seharusnya Rp 2000. Mungkin penumpang tersebut hanya membayar Rp 1500 atau Rp 1000. Wah, Repot jadinya.

Setelah melewati jembatan karet, semanggi sampai Komdak, sudah tidak ada suara-suara kasar lagi. Saya kira sudah reda. Eh, ternyata penumpang tersebut turun di BEI dan terlibat percekcokan mulut dengan sang kondektur. Waduh, ternyata belum selesai ya (ungkap saya dalam hati).

Mencermati hal tersebut, saya rasa ada beberapa kenyataan/hal yang perlu dijadikan perhatian:

1. Bayarlah ongkos sesuai tarif. Sebagai penumpang, hal ini yang wajib kita penuhi. Meskipun jarak yang ditempuh tidak jauh, tetapi bayarlah sesuai ketentuan yang berlaku. Kita mendapatkan hak kita, naik angkutan umum, tapi kita juga harus menunaikan kewajiban kita, yaitu membayar ongkos sesuai tarif.
2. Berikanlah informasi tarif/ongkos di angkutan umum secara jelas. Sebaiknya, ditiap bus/metromini/kopaja, diberikan informasi mengenai tarif yang berlaku. Karena belum tentu semua penumpang faham berapa tarif yang harus dibayar, terkadang orang yang baru naik angkutan umum tersebut belum tahu mengenai besaran tarifnya.
3. Setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda, tergantung lingkungan yang membentuknya. Perkataan kasar dari sang kondektur, mungkin representasi dari kekesalannya karena sang penumpang membayar kurang. Mungkin sang kondektur dibentuk dari lingkungan jalanan yang keras, jadi dia terbiasa untuk berlaku kasar. Lalu bagaimana dengan kita? Cuma kita sendiri yang bisa menjawabnya.
4. Ikhlaslah. Bila kedua pihak bersifat ikhlas, maka hal tersebut tidak akan terjadi. Penumpang akan dengan ikhlas & senang hati membayar sesuai tarif, Rp 2000 sedangkan kondektur akan senang & ikhlas menerima ongkos yang sesuai. Bila misalnya penumpang membayar dengan jumlah yang kurang, sang kondektur akan mengingatkan dengan cara yang baik. Niscaya sang penumpang akan menyadari kesalahannya.

Entry filed under: Cerita Pembangun Moral. Tags: .

Pengamanan untuk ruang terbuka didalam rumah (informasi harga teralis) Pemberian Horden dan Vitrage pada Rumah

2 Comments Add your own

  • 1. gyannara  |  June 16, 2010 at 8:34 am

    Bukannya yang lewat Dukuh atas-Sudirman itu Kopaja

    Reply
    • 2. depokmania  |  June 16, 2010 at 8:37 am

      Maksudnya sih Kopaja bos😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: