Saling Pengertian Sesama Penumpang KRL (impian)

June 2, 2010 at 5:47 am Leave a comment

Gerbong yang penuh merupakan suasana yang sudah biasa dihadapi oleh para penumpang KRL Jabodetabek, apalagi saat pagi (waktu berangkat kerja) dan sore (waktu pulang kerja). Keadaan ini terjadi tidak hanya di kereta ekonomi, tetapi juga di kereta express atau ekonomi AC. Tampaknya semakin banyak orang yang menyadari & merasakan keuntungan dan manfaat dari mass transport (KRL), dibandingkan dengan kendaraan pribadi, misalnya mobil ataupun motor.

Sayangnya peningkatan jumlah penumpang KRL tidak dibarengi dengan penambahan armada dan perbaikan fasilitas yang sesuai oleh pengelola KRL, dalam hal ini PT. KAI Commuter Jabodetabek. Dimana kereta sering mengalami keterlambatan pemberangkatan dari jadual semula sampai dengan kereta mogok. Kendala-kendala tersebut tentu saja merugikan para penumpang sebagai konsumen dari KRL sendiri.

Selain kendala yang datang dari pengelola KRL, seringkali tingkah laku dari para penumpang yang tidak sesuai membuat suasana KRL menjadi tambah tidak nyaman. Saya menyimpulkan tindakan-tindakan atau kebiasaan/tingkah laku dari para penumpang KRL yang berpotensi membahayakan diri atau merugikan penumpang lain, sbb:

1. Naik dan berada diatap gerbong,
Ini merupakan tindakan paling berbahaya penumpang KRL. Biasanya para penumpang KRL ekonomi yang melakukannya. Tampaknya mereka lebih senang duduk diatap gerbong (mungkin karena sejuk terkena udara luar langsung) dibandingkan berdesakan didalam gerbong. Tetapi mereka secara langsung telah membahayakan diri sendiri. Sudah banyak kejadian penumpang KRL meninggal karena tersengat arus listrik, terjatuh maupun terkena dinding jembatan, tetapi tampaknya mereka belum juga jera. Tak jarang juga Polsuska (polisi khusus kereta) melakukan razia dan memaksa mereka untuk turun dari atap, distasiun pasar minggu atau manggarai, tapi begitu polsuska berlalu, mereka tetap kembali naik ke atap gerbong.

Mudah-mudahan para penumpang KRL tersebut dapat segera sadar dan tidak lagi naik ke atap gerbong.

2. Berebutan saat masuk kedalam gerbong,
Hal ini juga sering terjadi saat kita akan naik KRL. Tidak peduli Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Remaja berebutan dan kadang-kadang saling sikut untuk bisa segera naik dan duduk ditempat duduk. Terkadang saking kalapnya, mereka sering kali mendorong orang-orang tua, demi bisa dapat tempat duduk. Sungguh menyedihkan bagi saya. Mungkin karena para penumpang KRL telah lelah bekerja seharian, sehingga mereka ingin bisa nyaman duduk saat perjalanan pulang.

Mudah-mudahan para penumpang KRL dapat lebih sabar dan tidak terlalu berebut untuk naik kedalam gerbong. Kalaupun rebutan, tolong jangan sampai mendorong orang-orang tua (kakek/nenek), karena fisik mereka sudah lemah.

3. Duduk di “priority sheat” bagi yang kurang berhak,
Hampir setiap gerbong, dibagian belakang atau depan (dekat sambungan), biasanya ada “priority seat” yang diprioritaskan bagi wanita hamil, orang tua, maupun ibu dengan anak kecil/bayi. Tetapi sering kali orang yang kurang berhak (Bapak-Bapak atau Ibu muda atau Remaja) duduk disana, padahal didekatnya masih ada kakek/nenek atau ibu Hamil yang berdiri. Wah, kl menurut saya kurang berperasaan tuh orang-orang yang duduk di-“priority seat”. Harusnya mereka mempesilahkan orang yang lebih berhak untuk duduk disana.

Mudah-mudahan para penumpang KRL dapat lebih sadar untuk tidak duduk di “priority seat” bagi yang kurang berhak. Kalaupun duduk disana, mudah-mudahan mereka akan mengalah dengan memberikan tempat duduk tersebut bagi orang lain yang lebih membutuhkan.

4. Duduk dijalan/depan pintu (didalam gerbong),
Inilah yang paling saya kurang sukai. Karena sering sekali penumpang KRL duduk dijalan (yang mestinya tempat untuk berdiri) atau didepan pintu gerbong. Kebanyakan menggunakan kursi lipat atau koran. Sebenarnya bila kereta tidak begitu penuh tidak apa-apa karena tidak terlalu menganggu penumpang lain. Tetapi saat penumpang padat, seringkali mereka tidak peduli dan tetap saja duduk. Khan kasian penumpang lain jadi terganggu, karena mereka yang duduk menggunakan ruang yang lebih banyak dibandingkan yang berdiri. Niscaya disekitar penumpang yang duduk, ruang bagi penumpang lain akan berkurang.

Oya, selain itu memang peruntukan untuk tempat duduk adalah dibangku yang sudah disiapkan. Jalan dan bagian depan pintu adalah tempat untuk berdiri penumpang. Tetapi mungkin karena tidak ada larangan yang tegas dari pihak pengelola KRL, maka sebagian penumpang tetap duduk dijalan atau depan pintu gerbong.

Mudah-mudahan para penumpang bisa lebih sabar untuk berdiri daripada duduk dijalan atau depan gerbong. Karena dengan mengambil posisi duduk akan menyebabkan ruang penumpang lain menjadi lebih sempit. Oya, pihak pengelola KRL sebaiknya juga mengeluarkan himbauan atau anjuran bagi penumpang untuk duduk ditempat yang sudah disediakan dan tidak duduk dijalan atau depan pintu gerbong.

Semoga KRL makin nyaman kedepannya. Amin …….

Entry filed under: Tentang KRL. Tags: .

Membujuk Anak Mengatasi Atap atau Karpus Bocor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: