Apakah Migrasi ke IP harus dilakukan?

February 19, 2010 at 6:34 am Leave a comment

IP, merupakan singkatan dari Internet Protocol. Istilah IP ini sangat erat terkait dengan internet dan jaringan/network. Awalnya, jaringan yang mengadopsi standard TCP/IP dimulai dari jaringan yang punya skala kecil (LAN), kemudian sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan, standard TCP/IP mulai digunakan secara lebih luas dan skala yang lebih besar.

Didalam dunia Telco, IP merupakan hal yang cukup baru. Karena selama ini, sistem Telco lebih banyak mengadopsi standar TDM maupun ATM. Hal ini dikarenakan didalam dunia telco, realibilitas jaringan/network merupakan hal yang mutlak. Hal ini yang pada awalnya belum dapat dipenuhi oleh standar protokol IP. Karena pada awalnya IP memang didesain untuk melayani jaringan yang memiliki skala kecil. Sehingga hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar dari jaringan skala besar, yaitu reliabilitas (biasanya untuk sistem telco membutuhkan reliabilitas sampai 99.999%), sulit tercapai.

Bila dibuatkan summary, berikut adalah summary dari keunggulan maupun kelemahan dari sistem TDM dan IP, sbb:

1. TDM,

Sistem TDM identik dengan “clear channel”, sehingga bisa dikatakan bahwa jalur/pipa yang disediakan sudah tetap dan dedicated (tidak sharing dengan pihak lain). Sehingga reliabilitasnya sangat bisa diandalkan sehinga cocok untuk sistem telko yang membutuhkan keandalan jaringannya. Tetapi, kompensasi yang harus dihadapi adalah terbatasnya kapasitas yang tersedia, karena setiap permintaan koneksi selalu diberikan secara tetap jalurnya. Meskipun pada saat-saat tertentu, jalur tersebut tidak digunakan untuk melewatkan traffic.

Sehingga, apabila sistem TDM terus dipakai untuk menangani jumlah pelanggan yang terus meningkat, maka dimensi jaringan yang harus disediakan juga harus selalu digandakan kapasitasnya. Hal ini akan menyebabkan tingginya tingkat investasi yang dibutuhkan (baik CAPEX maupun OPEX). Sebenarnya, tidak setiap waktu kapasitas jaringan penuh dalam melayani pelanggan, biasanya hanya saat-saat “peak hours” saja jaringan penuh atau sampai mengalami antrian (congestion). Tetapi disaat normal, bukan peak hours, biasanya kapasitas jaringan masih mencukupi.

Tetapi karena sistem TDM memiliki fleksibilitas yang rendah, maka untuk menjamin kepuasan dari pelanggan dalam menggunakan layanan kita, kita harus menyediakan kapasitas jaringan yang setidaknya lebih besar dari kebutuhan traffic maksimal yang ada. Agar tidak terjadi penurunan kualitas layanan kepada pelanggan.

2. IP/Ethernet,

Berbeda dengan sistem TDM, IP/ethernet menawarkan kelebihan dari sisi fleksibilitas penggunaan kapasitas jaringan. Konsep utama yang diusung oleh sistem IP/ethernet adalah “resource sharing”, artinya resource jaringan tidak dimonopoli/tidak dedicated untuk pengguna tertentu. Artinya,  saat pengguna tersebut tidak menggunakan resource dari jaringan tersebut, pengguna lain bisa menggunakannya. Jadi, pemilik jaringan bisa mengatur pengembangan jaringannya secara lebih “smart” dan efisien, tidak hanya mengupgrade kapasitas secara berlebihan, karena penambahan jumlah pelanggan. Sehingga diharapkan pihak pemilik jaringan bisa melakukan efisiensi CAPEX dan OPEX.

Bagaimana sistem IP/ethernet memungkin hal tersebut terjadi? Kata kuncinya adalah QoS (Quality of Service). Istilah saya, IP/ethernet lebih cerdas dibandingkan dengan TDM, karena dengan QoS, dapat dilakukan optimasi penggunaan resource jaringan dan pengaturannya. Sehingga, pemilik jaringan dapat mengatur agar semua pelanggan dapat dipenuhi kebutuhannya dengan kapasitas jaringan yang ada. Tentu saja apabila kita memiliki jaringan dengan kapasitas yang besar akan lebih dapat memberikan layanan yang lebih baik dibandingkan jaringan dengan kapasitas lebih kecil.

Konsekuensi dari penggunaan resource jaringan secara bersama (sharing) adalah penurunan dari performansi & kualitas layanan. Hal ini terjadi disaat jumlah kebutuhan kapasitas jaringan lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia. Memang dengan QoS dimungkinkan untuk memberikan antrian/penundaan (no traffic drop), sehingga semua pelanggan dapat dilayani. Tetapi adanya waktu tambahan untuk memproses antrian layanan tersebut merupakan penurunan kualitas layanan, bila dibandingkan dengan sistem TDM yang real time.

Untuk kondisi saat ini, dimana semua penyedia layanan & pemilik jaringan telekomunikasi sangat memperhatikan efisiensi (CAPEX maupun OPEX) dan makin handalnya sistem IP, maka tuntutan untuk migrasi ke sistem IP semakin besar. Tetapi tentu saja layanan-layanan yang berbasis “real time” (yang idealnya menggunakan sistem TDM) masih bisa dilayani secara baik kualitasnya.

Inilah isu terbesar yang dihadapi pemilik jaringan telekomunikasi, bagaimana memigrasi jaringan ke IP dengan efek minimum terhadap jaringan & layanan eksisting (TDM based).

Jadi, bisa disimpulkan sendiri apakah migrasi ke IP merupakan hal yang harus dilakukan atau tidak bagi pemilik jaringan? Kl menurut saya perlu, tetapi prosesnya perlu dilaksanakan secara cermat & cerdas.

Entry filed under: IT & Telco technology. Tags: .

Membeli Rumah secara KPR Pemindahan Gaji Bagi PNS Mutasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Counter

  • 377,304 hits

Categories


%d bloggers like this: